Sebuah awal kehidupan yang pana ,menjadi kenyataan yang indah .
Penjual koran
Dikeremangan pagi buta menunjukkan pukul 04.45 ,keheningan pinggiran kota mulai terpecahkan dengan hiruk pikuk pedagang menyiapkan barang dagangannya untuk dijajakan dikota ,diujung perempatan gang tampak rumah geribik ukuran kecil disitu tinggalah arjun dan beberapa adik nya, anak muda perantauan dari desa yang terpencil yang terletak di perbatasan antara jawa barat dan jawa tengah mengadu nasib dikota berharap semua akan merubah jalan hidup nya ,ayah nya yang telah lama meniggal dan ibu yang mulai menua dan sering sakit-sakitan dan tadinya sebelum ia mengadu nasib dikota pekerjaan sebagai pencari sabut kelapa lah yang ia lakoni yang dijual kepada pengepul dengan uang 5 ribu perhari mampu membuatnya bertahan hidup sementara waktu dengan belenggu kemiskinan yang terus berlarut.biaya hidup nya terkadang hanya mengandalkan belas kasian bos pengepul disaat hasil kerjanya hanya mendapatkan sedikit dengan meminjam uang lebih dan digantikan dengan hasil berikutnya.melihat ibunya yang terus sakit-sakitan hanya bisa berbaring di tempat tidur dengan alaskan tikar yang telah usang membuat nya merasa sanga sedih , tadinya arjun mempunyai niat untuk membawa ibunya ke dokter untuk mengobati penyakit nya namun karena keterbatasan dana ia mengurungkan niatnya .uang kerjanya hanya cukup untuk membeli beras dan beberapa bahan lain terkadang arjun menyisihkan sedikit uangnya .
Teringat ketika sang ayah masih bersama , kehidupannya masih sedikit terjamin sebagai pegawai pt yang bekerja siang malam dan dengan hasil gaji yang lumayan membuat keluarga nya sedikit merasakan kehidupan ,namun semua itu berubah ketika terjadi krisis moneter yang dialami negara indonesia , sang ayah di phk dan beralih pekerjaan sebagai pemecah batu kali yang tak tentu hasil pendapatannya .dikala itu ayah nya divonis terkena penyakit kanker yang mematikan dan masa hidupnya yang tak bertahan lama akibat penyakit yang terus menyebar dan menggerogoti tubuhnya, tubuhnya seperti mayat hidup hanya bisa bernapas untuk berbicara pun ia sudah tak sanggup diwaktu itu arjun masi berusia 17 tahun ,dengan semua dana yang telah terkuras untuk pengobatan ayahnya dengan hasil nihil .rumah satu-satu yang ia punya terpaksa dijual karena ibu pun sakit-sakitan sebagian uang penjualan ia belikan obat –obatan dan rumah geribik ditengah hutan karet milik mandor tejo yang sekaligus arjun bekerja sebagai pencari getah karet milik mandor tejo untuk mencari hasil tambahan arjun mencari sabut kelapa .tak pernah ia rasakan kehidupan yang santai seperti pejabat yang hanya bisa makan ,tidur dan memakan uang rakyat . tidurnya pun selalu dibayangi mimpi buruk sebuah kehidupan masa depan yang akan ia temui .
seketika lamunannya tersentak dengan rintihan yang berasal dari kamar ibunya, arjun langsung kekamar ibunya .
“ibu .....ibuuu kenapa , deekkkkk dekkk (berteriak memanggil rizal dan jeni)”
“ibu kenapa mas .....ibuuuuuuu uuuuu( memeluk sang ibu )”
“mas juga gak tau de , bantu mas angkat ibu (sambil menangis )”
ketiganya menagis histeris
arjun tampak bingung apa yang harus ia lakukakn ia gendong ibunya keluar dan mencari pertolongan berjalan sejauh 2 km untuk sampai ke jalan raya , hari itu sudah cukup sore tak memungkinkan ada kendaraan yang menuju kekota ,berharap ada kendaraan apapun yang lewat selang waktu beberapa menit dari kejauhan tampak mobil dengan angkutan sabut kelapa tak salah lagi adalah mobil pak bakri pengepul sabut kelapa yang membawa barangnya ke pabrik .dengan melambaikan tangan perlahan tapi pasti mobil itu semakin pelan dan berhenti.
“jun kenapa ibunya .....cepet cepet naikkkk”
arjun hanya bisa tersenggak membendung tangis yang tak bisa tertahan lagi dengan merangkul kedua adik nya yang menangis histeris.mobil terus melaju ke arah kecamatan terdekat dan berharap ada puskesmas yang bersedia menolong ibunya dengan biaya pendanaan yang ringan .
sesampainya ia langsung menurunkan ibunya dibantu pak bakri dan membawa masuk , dokter langsung membawa keruang igd bersama para perawat .arjun ,pak bakri dan kedua adik nya tak diperkenankan untuk masuk .adiknya yang terus menangis ,pak bakri yang duduk tampak cemas dan arjun mondar-mandir dengan semua kegelisahan yang ia rasakan .30 menit berlalu dokter pun keluar dari ruang pemeriksaan .
“gimana dok ,apa ibu saya baik-baik saja” dokter pun hanya bisa menjelaskan dengan mimik muka enggan untuk memberi tau
“ibu anda terkena penyakit leukimia ,sedikit kemungkinan untuk bisa diobati walaupun dengan cara terapi “
“bohong kan dok , apa yang dokter katakan gak bener kan (berteriak dan terduduk sambil menangis) tak percaya akan semua yang menimpanya ,pak bakri menuntun arjun untuk duduk dan menenangkan nya .
“sabar ya jun , semua ini cobaan dari yang diatas untuk menguji kita seberapa kuat nya ketabahan kita , arjun mengangguk tersendu dengan tatapan ke arah lantai ia rangkul kedua adiknya .pak bakri yang tak kuasa melihat tangis mereka memutuskan untuk keluar dan mengurus biaya administrasi ibu arjun .
“nak biaya administrasi udah saya urus ,jadi kamu tenang aja bapak mau nganterin barang dulu ke pabrik , nanti bapak kesini lagi “
“terimakasi banyak pak bakri , kalo saya udah punya uang pasti saya ganti pak terimakasih banyak”
pak bakri keluar menuju mobilnya dan melaju ke arah pabrik , tak seberapa lama kemudian datanglah beberapa tetangga ya sengaja menjenguk sang ibu disana tampak pak tejo yang juga ikut bersama keluarganya.
“gimana jun ibu nya , kata dokter sakit apa ?”
“kata dokter ibu kena penyakit yang hampir mirip dengan penyakit ayah (dengan raut muka sedih )
“astaghfirulloh yang sabar nak jun , (sambil mengusap punggung arjun )”
“jun kami juga turut prihatin dengan apa yang kalian hadapi kami hanya bisa menolong semampu ibu”( beberapa tetangga)
pak tejo merasa iba melihat penderitaan anak sekecil itu yang telah menjadi tulang punggung untuk keluarga nya .
suara detik jarum jam yang terus berbunyi dan jarum jam pun terus menunjukkan angka yang berbeda , tetes inpus yang terhubung di lengan sang ibu membuat nya turut merasakan , suara kereta pasien yang hilir mudik memecah keheningan puskesmas dengan fasilitas rawat inap dengan peralatan seadanya .
Pertemuan Terakhir
Sampai di Pagi hari hanya arjun dan pak tejo yang masih menunggu ,beberapa tetangga dan pak bakri sudah pulang sejak semalam , pak tejo yang terbangun lebih awal membangunkan arjun untuk menunaikan sholat subuh ia tak tega membangunkan kedua adik nya yang tertidur sangat pulas . tak seberapa lama azan dikumandangkan .
“zun mari kita sholat , berdoa supaya ibu mu cepat sembuh “
“iya pak mari , (berjalan mencari arah sumber azan )”
dalam doanya sangat terpukul ,air mata nya mengucur tak bisa terbendung ,ya allah mengapa kau berikan sebegitu banyak nya cobaan , hanya keluarga inilah harta yang hamba punya ya allah . doa nya tertutup dengan air mata yang membasahi kedua pipi nya .dan setelah selesai sholat pak tejo megajak arjun untuk mencari makanan untuk sarapan kedua adik nya ,memang pak tejo sejak dulu terkenal dekat dengan sang ayah baginya keluarga arjun adalah keluarganya juga , arjun sangat beruntung dikelilingi dengan orang-orang yang menyayangi keluarganya . arjun tak pernah mengeluh dengan hasil kerja payah nya untuk keluarga yang ia bisa hanyalah bersyukur dan bersyukur .
sepulang nya dari membeli makanan untuk kedua adik nya ia dan pak tejo kembali keruangan ibu nya , tetapi dari jauh terlihat adik nya yang menangis di depan ruangan gawat darurat .arjun dan pak tejo langsung berlari melihat apa yang sedang terjadi .
“dek ibu kenapa ?......kenapa ?... adiknya yang masih kecil dan tak tau apa-apa hanya bisa menggelengkan kepala dan menangis .namun tak beberapa lama kemudia kereta pasien yang diisi tak lain adalah ibunya .
“dok ibu saya kenapa ?............ tolong dok selamat kan ibu saya “
“ maaf sebelumnya dengan keterbatasan peralatan yang kami punya kami tidak bisa , sebaiknya ibu dibawa kerumah sakit umum dikota”
lalu pak tejo berlari keluar memutar mobil untuk membawa ibu arjun kerumah sakit umum , dengan suasana jalan raya yang masih sepi memungkinkan untuk sampai kerumah sakit dengan waktu singkat , setibanya dirumah sakit beberapa perawat telah menyambut dan memasang beberapa peralatan medis seperti oksigen , dan yang lainnya namun tak ada tindakan lain hanyalah peralatan standar yang digunakan, penyakit ibunya yang belum menyebar sebenarnya bisa diangkat dengan cara operasi namun semua lagi-lagi tertunda dengan biaya administrasi kartu keluarga miskin yang ia punya tak berlaku . memang hanya orang kaya yang pantes untuk hidup dan untuk orang miskin seperti keluarga arjun hanya bisa memohon dan berharap keajaiban ada seseorang yang mau membantunya . sistem kebijakan yang bobrok saat itu membuat semuanya berubah . yang dipikirkan para petinggi hanya lah kekayaan pribadi bukanlah kemakmuran untuk seluruh rakyat nya .
arjun hanya bisa pasrah dengan keadaan sekarang , ibunya terbaring lemas tak berdaya yang hanya ia bisa ialah bernapas dengan alat bantu berupa selang oksigen yang terhubung di mulut dan hidung nya .
tepat jam 3.15 itulah hari dan jam terakhir untuk ia bisa melihat ibunya dalam keadaan bernapas , isak tangis memenuhi ruangan pasien tak kuasa menahan tangis arjun lemas terduduk didekat tempat tidur ibunya , ditambah sejak kemarin memang ia belum makan .
sekarang ia dan kedua adik nya menjadi anak yang malang dengan keadaan yatim piatu ia harus mewujudkan cita-cita kedua orang tuanya supaya adik-adiknya menjadi orang yang berguna .arjun bertekat untuk mengadu nasib di kota dengan kemampuan seadanya dan izasah lulusan SMA yang terlihat hanyalah nilai sastra indonesia yang terlihat menonjol .kota dengan kehidupan keras telah menanti berputar –putar mencari kontrakan yang sedikit murah memang sangat lah sulit , dalam perjalanan seribu pertanyaan terngiang di benak nya .
“maaf mas numpang tanya disini ad kontrakan gak ?” arjun bertanya kepada penduduk sekitar .
“ ada mas di ujung gang itu belok kiri terus mento , denger-denger sih murah mas tapi tempat nya agak kumuh dan langganan banjir “
“oh iya mas terimakasih banyak “ tekadnya sudah bulat tak perduli apa yang akan terjadi hari esok , dengan sisa uang yang ada arjun gunakan untuk makan dan bayar kontrakan bulan pertama .
tok.....tokkk.....tokkk assalmualaikum
keluarlah seorang wanita setengah baya dengan pakaian sexy ala anak muda zaman sekarang , tersenyum dan menyambut baik kedatangan arjun.
“maaf tante , apa bner tante pemilik kontrakan yang diujung gang itu “
“iya bener dek , kenapa ? apa mau nyewa (dengan nada manja ) 300 rb perbulan + listrik , dan Cuma satu ranjang ruang tamu sama dapur “
“hmmmmmm yaudah kalo begitu saya bayar 150 rb dulu ya tan , sisanya saya bayar minggu depan “
“oke tapi enggak pake lama !! dengan nada tinggi “
arjun mengajak adiknya untuk langsung berberes ketempat tinggal yang baru , tidak besar dan tidak mewah namun cukup melindungi dari hujan dan panas terik matahari .
“de kalian sementara kalian dirumah saja dulu nanti kalo mas sudah ada biaya kalian mas sekolahin disini , zal jaga adik mu jeni .mas besok mau coba nyari kerja”
“iya mas rizal pasti jagain jeni “arjun memeluk kedua adik nya , hari semakin larut jeni dan izal tidur di tempat tidur sedangkan arjun tidur di sofa ruang depan , malam itu entah kenapa arjun tak bisa tidur , ia obrak abrik isi tasnya harta yang ia miliki hanyalah selebaran izasah SMA yang tak berguna dizaman sekarang .sejak sma kelas 2 arjun menulis setiap kegiatan sehari –hari dan menulis menjadi sebuah cerita namun semua itu terhenti ketika ia lulus SMA menjadi tulang punggung keluarga membuat nya tak ada waktu untuk itu.dalam hatinya berkata apa bisa ia mendapatkan pekerjaan dengan mengandalkan izasah SMA . hingga menjelang waktu subuh arjun tak juga bisa tidur ia memutuskan untuk menyiapkan semua yang mungkin bisa ia bawa untuk melamar pekerjaan ,azan subuh berkumandang jalanan depan gang terlihat beberapa warga yang lewat untuk pergi ke masjid menunaikan sholat . arjun pun bergegas mengambil air wudhu di sumur tepat belakang rumah , pagi itu cahaya langit mulai mengintip hilir mudik pedagang , maupun pemulung sudah bergegas mencari peruntungannya di hari ini . sebelum arjun keluar mencari pekerjaan ia menyempatkan untuk memasak nasi dan lauk untuk sarapan kedua adik nya kini mereka harus hidup prihatin dengan makan seadanya .
“de rizal nanti kalo jeni udah bangun ajak sarapan ya , sarapannya udah ada dimeja makan , jangan kemana-mana jaga adikmu ya”
“oke mamas tenang aja rizal pasti jagain adek jeni “
arjun pun tersenyum bangga dengan adiknya , lalu ia keluar dengan membawa tas kecil berisikan 1 lembar izasah SMA dan 1 sertifikat pemenang lomba pembuatan cerpen . berjalan menyusuri gang pinggiran kota tampak sedikit aneh dari pandangan orang namun tak ia hiraukan hingga dijalan raya dengan semua tenaga yang ada ia berharap banyak untuk hari ini , berjalan dan terus berjalan satu persatu perusahaan ia masuki namun semua nihil.
dilain keadaan (kontrakan )
“de jeni bangun , kita sarapan dulu tadi mas arjun udah buatin kita sarapan”
mengumpulkan sedikit kesadaran jeni terbangun , dengan mengusap-ngusap mata nya yang masih tampak ngantuk.tudung nasi mereka buka yang terlihat hanyalah 4 buah tempe goreng , nasi dan sayur bening ,rizal sebagai adik yang dipasrahi oleh mas arjun hanya bisa membujuk adik nya untuk makan dengan seadanya ,kedua nya dengan lahap nya menyantap semua yang ada karena sejak kemarin mereka belum makan.
“mas izal aku pingin maen , aku pingin keluar maen sama mereka “sambil menunjuk kearah luar yang terlihat anak-anak sedang bermain sekuter
“kata mas arjun gak boleh keluar , kita disuruh dirumah mendingan kita bantu mas arjun beresin rumah”
kedua nya tampak asik dengan sapu sabut yang mereka gunakan untuk membersihkan rumah kontrakan .
sementara sudah menjelang siang matahari nampak tepat diatas ubun-ubun membakar kulit nya yang mulai menghitam namun tak satupun perusahaan yang menerimanya untuk bekerja , dengan sisa tenaga yang ia punya ia berjalan terus menyusuri setiap perusahaan namun hari itu memang bukan nasibnya ia memutuskan untuk kembali pulang kekontrakan ,
apa kabar arjun ya dikota , pak tejo tampak rindu dengan arjun kepikiran untuk menanyakan kabar nya disana .
“bu’ apa kabar arjun sama anak-anak ya disana ?... apa mereka baek-baek saja (pak tejo sedang berbicara dengan istrinya )
“coba bapak telpon , apa arjun gak ninggalin nomer telpon toh ?...”
“oh iya bapak lupa , waktu dia mau kejakarta dia ninggalin nomer telpon sebentar coba bapak cari , semoga saja masih aktif ya bu”
pak tejo tampak sedang mencari dan mengetik nama arjun dari kontak nya A R J U N dan ternyata nomer nya masih ada , pak tejo mencoba untuk menghubungi arjun .ternyata nomernya masih aktif
tuuuuttttt...tttt.tuttt.. terdengar dari hp pak tejo ,
“hallo assalamualakum maaf siapa ini ya “tutur katanya yang halus tak pernah berubah dari dulu hingga sekarang
“ini pak tejo nak , masih ingat kah ?...”
“oh pak tejo , maaf pak saya kira siapa .bagaimana kabar bapak dan keluarga disana ?”
“baek-baek saja ko nak , kamu apa kabar disana , dan bagaimana dengan rizal dan jeni .apa kamu sudah mendapatkan pekerjaan disana ?” seketika itu raut wajah arjun berubah menjadi bingung apa yang harus ia katakan ,sangant malu bila ia menyatakan kalo ia masih menjadi pengangguran ,tapi apa boleh buat begitulah fakta nya sejak kecil ia tak pernah diajarkan untuk berbohong.
“hmmmm masih penganguran pak ,sudah seharian saya nyari kerjaan tapi belum nemuin titik terang pak “
“yang sabar ya nak arjun , oh ya kalo ada perlu apa-apa jangan segen-segen ngubungin bapak , kalian udah bapak anggep anak bapak sendiri “
“terimakasih banyak pak , saya pasti ngubungin bapak “
ditutup dengan salam ,komunikasi pun terputus rumahnya tampak lebih rapi ,pasti kerjaan jeni dan rizal (arjun tersenyum .)
“dek dek .... (membangunkan adik nya yang sedang tertidur) ,udah makan belum dek , nih mamas bawain nasi telor” kedua nya langsung tersentak dan terbangun kegirangan , 1 bungkus nasi mereka makan berdua sedangkan arjun memakan sisa nasi tadi pagi dengan lauk kecap yang sengaja ia beli di warung sepulangnya tadi .
air matanya meleleh ketika melihat kedua adiknya makan seperti orang yang kelaparan ,nasi yang telah masuk kedalam mulutnya pun sulit untuk ia telan ia tak tega dengan semua . arjun membuang muka dari kedua adiknya ia tak mau melihat jeni dan rizal ikut-ikutan sedih .setelah semuanya selesai arjun kemudian mandi dan mengajak keduanya untuk menunaikan sholat isya .
Diluar rumah ketika hari gelap
Sementara itu gardu didekat rumahnya terlihat beberapa anak muda sekitar yang sedang nongkrong dengan bungkus kartu remi ,mereka bukan judi tapi hanya permainan biasa untuk hiburan semata terlihat adi anak tante reni pemilik kontrakan sedang asik bermain dengan teman-temannya .
“eh di beli makanan dong ,kontrakan lo kan keisi tuh pasti ada pemasukan dong”
“pemasukan gundulmu amblek , itu punya emak gue ,gue mana dapet jatah itu juga katanya sih baru dibayar separo “
“nah separo nya lo tagih tu , kan lumayan buat uang jajan lo emak lo gak akan marah deh kalo semuanya udah ditangan “
kebetulan minggu-minggu ini adi tak memegang sepeser uang pun niat jahatnya telah merasuki pikirannya akibat bujukan-bujukan dari temannya .arjun tak tau kalau keesokan hari diwaktu yang sangat pagi ia ditemui oleh adi untuk menagih sisa uang kontrakan.
“jun ...junnn keluar hoyyy bayar kontrakan “ arjun pun bergegas dari dapur yang sedang membuatkan sarapan untuk kedua adiknya menuju keluar.
“maaf mas , mas siapa ya ?,, tanya arjun dengan mengernyitkan dahinya
“gua anak nya tante reni , kata nyokap disuruh bayar buruan kalo gak mending lo angkat kaki deh dari sini “
“tapi saya beberapa hari yang lalu udah sepakatan kalo separuh uang kontrakan saya bayar minggu depan , lah ini baru beberapa hari saya disini .kasih saya keringanan mas saya belum dapet pekerjaan ,untuk makan pun saya seadanya”
“oke gue kasih lo waktu besok , dan lo jangan bilang sama nyokap gua kasihin gue duitnya kalo enggak liat besok deh , dasar orang miskin !! “berjalan sambil meninggalkan pelataran kontrakannya bersama beberapa teman yang tak ia kenal.
hari itu tak membuatnya untuk putus asa , mungkin hari esok keberuntungan itu akan datang ,ia rebahkan tubuhnya yang kurus itu disebuah dipan bambu .ya tuhan kapan semuanya ini akan berakhir( dalam hati) dan kembali ia mengadu nasib nya ditemani debu dan terik panas matahari yang sangat menyengat .menyusuri gang , menyebrangi jembatan dengan segala medan telah ia jelajahi dengan berjalan kaki ,lututnya yang hanya seorang manusia terkadang tampak pegal dan ia putuskan untuk beristirahat sejenak di emperan-emperan toko ,tak sengaja matanya terfokus kepada salah satu toko buku dan majalah yang berlapak didekat mini market di seberang jalan .pikirannya mulai tertuju dan terfikir untuk mencoba mencari pekerjaan disitu .
“permisi pak maaf sebelum nya kalo mengganggu “bapak itu hanya mengangguk tak menghiraukan ,hmmm apa ada lowongan pekerjaan ?, tapi gaji dimuka .
“heh lo mau kerja apa mau ngrampuk , kalo mau duit ya kerja dulu “ dengan wajah sinis .
“tapi saya butuh banget buat bayar kontrakan kalo tidak saya bakalan tidur dijalanan ,kasihan adik-adik saya pak mereka masih kecil”
“emng urusannya sama gua apa ?! dengan nada tinggi ,
“apa aja tolong lah pak ,saya mohon banget kerjaan apa saja “
“eh mending lo pegi deh ...... gak ada kerjaan buat lo yang ada toko gua nanti pada ludes lo colongin “ arjun sejenak tampak sudah terpancing emosinya namun ia bisa meredam semua nya ,lalu ia tinggalkan tempat itu .
Dirumah tampak jeni yang baru bangun dan menanyakan mas arjun
“mas rizal ,mas arjun dimana ? ko gak ada “ rizal yang sehabis cuci muka lalu menjawab pertanyaan jeni
“mas arjun cari kerjaan de , nanti sore dia baru pulang “
“kasian mas arjun ya mas ,gimana kalo kita bantu mas ,kita bisa jual koran ,ngamen atau mulung”
“tapi kan... kita gak pernah kayak gitu , nanti kalo dimarah mas arjun gimana ? nanti malah mamas yang diomelin tapi apa boleh buat “
keduanya nekat untuk keluar dan menyusuri gang demi gang yang kumuh menuju pelataran kota yang ramai dan ramai juga dengan segala kemungkinan yang ada .menyumbangkan lagu anak-anak karena memamng itu yang mereka bisa ,dari mobil ke mobil mereka jajakan kemungkinan untuk bahaya yang menghadang sangatlah besar namun dengan sangat semangat menghilangkan semua rasa takut akan semua bahaya yang ada ,sementara arjun mencari pekerjaan tak tahu kalau kedua adik nya mengamen dijalanan yang banyak akan bahaya .
Tubuhnya mulai lesu ,dengan semua asanya yang tlah hilang ,terduduk disebuah taman kota sejenak menghirup angin segar mengistirahatkan otot-otot kaki yang mulai tegang , mencari hiburan tersendiri ia keluarkan sepucuk pena dan buku agenda harian yang sengaja ia tulis untuk mengisi waktu luang yang bertuliskan s cerita tanpa sebuah judul,beberapa menit berlalu urat dan tulang sakit tampak sudah berkurang .melaju bak layak nya robot yang tak punya rasa lelah dengan tekat yang menggebu-gebu .diujung taman seorang laki-laki tua yang mempunyai lapak sebuah penjualan koran , perlahan arjun menuju ketempat itu sambil mencari masjid terdekat untuk melaksanakan sholat zuhur
“loh pak masih siang ko udah tutup “
“ohhh .... gak ko bapak mau sholat dulu jadi ditutup sebentar “dengan sebilah tongkat kayu di tangan nya
“mari saya bantu pak “ arjun menutup pintu lapak geribik papan yang tampak telah lama dan usang .
lalu arjun bersama orang tua itu pergi menunaikan sholat dimasjid terdekat, setelah sholat arjun di perkenan kan untuk duduk sejenak sambil ngobrol , dia memperkenalkan namanya pak karno ,ia menceritakan banyak tentang kisah hidupnya yang dulu lebih keras dengan yang dirasakan arjun saat ini , dulu 4 tahun setelah kemerdekaan ia berumur 12 tahun dikala itu ayah nya meninggal dalam sebuah insiden penembakan masal yang terjadi pada malam itu di rumahnya ayah nya kontra terhadap kepemimpinan soeharto menuliskan sebuah artikel pendek yang menuliskan untuk pertama kali atas ketidaksetujuan cara memimpin prsiden dan tak memakan waktu lama artikel itu di muat di pemberitaan ,lalu malam harinya tepat jam 2 pagi rumah nya di hujani peluru oleh orang tak dikenal ayah pak karno meninggal ditempat akibat peluru yang menembus bagian dada kiri nya hanya ibu ,pak karno selamat dalam insiden penembakan orang tak dikenal, dan ibunya meninggal setelah dia beranjak 13 tahun karena serangan jantung , sewaktu itu pak karno hidup seorang diri dengan status yatim piatu , tak punya sanak saudara ataupun keluarga dan sewaktu zaman pembangunan di orde lama dia pergi keibukota untuk mencari pekerjaan diusianya yang begitu belia ,ia dapatkan sebuah pekerjaan yang sedikit dapat memberinya kehidupan yang berlanjut walau sekedar cukup untuk makan , pakain yang telah lusuh tak pernah ia ganti hanya satu harta itulah yang masih dapat ia kenakan .pak karno bertekat menjadi seorang tni dikala itu namun cita-cita nya gagal diwaktu usia 15 tahun dia bekerja sebagai penjual koran keliling dengan sepeda jengki pinjaman dari pemilik koran namun semua tak berakhir baik pak karno diserempet mobil milik pejabat tinggi negara yang tak bertanggung jawab ,tulang kaki kirinya patah dan hingga sekarang ia hanya bisa berjalan dengan dibantu sebilah tongkat kayu yang tampak tak pantas untuk seorang anak mantan pejuang negara . kisah nya sangat menggambarkan kekerasan hidup disaat itu , arjun hanya bisa menghayati semua cerita pak karno dengan seksama. Ternyata tak hanya orang tuanya yang menderita karena kerasnya kehidupan .tanpa awalan dan akhiran arjun langsung memotong pembicaraan pak karno .
“oh iya pak saya harus jalan lagi pak , saya lagi nyari kerjaan “
“oh kalo nak arjun berkenan nak arjun bisa kerja disini bapak mempunyai beberapa pelanggan mereka banyak meminta untuk mengantarkan koran kerumah mereka tapi dengan keadaan bapak yang seperti bapak sudah gak mampu lagi “
“terima kasih banyak pak , tapi saya butuh 150 rb pak untuk hari ini saya mau bayar kontrakan , kasihan adik-adik saya yang harus tidur dijalanan “
pak karno yang sering merasakan kehidupan yang seperti ini ia bisa memaklumi semua keadaan yang dialami arjun .
“gak papa pak kalo saya kerja lebih asalkan adik saya enggak tidur dijalanan “
“baiklah besok saya pinjam kan , dan jangan lupa besok berangkat pagi dan antarkan koran-koran ini kepada pelanggan , bapak juga punya sepeda dirumah kalo memang mau dipake , walaupun tak bagus tapi masih bisa digunakan “
“sebelumnya terimakasih banyak pak , terimakasih” hati nya hari itu terasa plong belenggu yang menghantuinya perlahan dapat terlepaskan ,kini ia pulang dengan membawa sebuah senyuman kecil dari sebuah harapan yang mungkin akan merubah jalan hidupnya .
Diperjalanan ia selalu membayangkan ketika semua nya berubah seketika Sesampainya dirumah ia melihat keadaan rumah tampak sepi , hening tak ada suara dicari-cari nya di semua sisi kontrakan ternyata tak terlihat siapapun kecuali beberapa pemulung yang sedang sibuk menghitung hasil dapatannya tepat dibelakang rumah , dekkk.....deekk kalian dimana mamas udah pulang nih bawa makanan, tapi tak satupun suara yang manyaut panggilannya.ia keluar dan menanyakan kepada tetangga sekitar namun tak seorang pun yang tau ,arjun tampak duduk terpaku kebingungan kemana adik-adik nya pergi .
“assalamualaikum ........”terdengar dari luar sangat berharap kalau itu adiknya
setelah ia buka ternyata benar kedua adik nya dengan memegang satu kantong plasti berisi satu bungkus nasi
“kalian dari mana saja , mas nyariin dari tadi “
“hmmm hmmm hmmm (bingung menjawab dan keduanya hanya tampak tertunduk ) jeni yang tampak lugu menjawab pertanyaan kakak nya
“tadi jeni sama mas rizal ngamen mas ,ni dapet banyak dan sebagian kami beliin nasi “
rizal masih tampak tertunduk tak berani menatap kearah arjun .
“rizal kan mas udah bilang kalian dirumah aja gak usah keluar rumah , mas masih bisa biayain kalian berdua tapi kalian harus sabar , untuk besok mas gak ngizinin keluar lagi ,paham “
kedua nya hanya menganggukkan kepala nya , ia sangat khawatir dengan mereka karena satu-satu yang ia punya saat ini hanya kedua adik nya .arjun menyuruh rizal dan jeni untuk makan setelah itu belajar , walaupun mereka belum sempat melanjutkan sekolah tapi arjun berharap pelajaran yang lalu tak lupa di otak mereka ,arjun melanjutkan tulisan tangannya sambil menunggu waktu azan isya.
3 tahun kemudian
Hari saptu 18 maret 2003 berita duka yang berasal dari desa sumberejo desa dimana arjun berasal pak tejo meninggal dunia ,akibat sakit parah .namun hari itu arjun tak bisa mengikuti prosesi pemakaman , sedikit uang yang telah ia kumpulkan telah habis untuk pembayaran sekolah adiknya dan uang kontrakan arjun hanya bisa mengucapkan turut duka yang saat ini sedang dialami istri pak tejo dan anak-anak nya melalui telpon umum ,sembari lewat ketempat ia bekerja ,jam 7 pagi jalanan tampak macet ,dengan disela keramain itu arjun sering kali mencari peruntungan lebih dengan cara keliling dan menjajakan koran nya dari lampu merah ke lampu merah berikutnya dan setelah semua nya habis terjual ia lapak dagangannya . terlihat jelas dari kejauhan orang tua dengan rambut uban yang telah menutupi seluruh kepalanya dengan sebilah tongkat kayu yang selalu menemani kemana saja dengan jalan terseok-seok perlahan menghampiri arjun yang sedang asik membenahi beberapa koran dan majalah, tak lain adalah pak karno dengan senyum khas dan sapaan selamat pagi membuka pertemuan pagi itu.
“assalamualaikum nak arjun “
“walaikum salam eh pak karno ,selamat pagi pak ada apa bapak pagi-pagi kesini seharus nya bapak istirahat saja “
“oh enggak apa-apa kok nak arjun Cuma mau ngasi tau kalo bapak besok mau kesurabaya tinggal sama anak bapak disana , rasanya bapak udah gak mampu lagi buat berjualan “
“jadi lapak ini bagaimana pak ? , kalau bapak tidak disini ?”
“itu nak arjun urus saja , ini hadiah buat nak arjun dan adik-adik nak arjun yang sudah berusaha begitu gigih “
“sekali lagi saya ngucapin terimakasih pak , bapak sangat baik kepada kami , entah harus membalas dengan apa agar saya bisa membalas semuanya “
“(tertawa terkekeh ) kamu terlalu banyak berterimakasih , sudah-sudah kamu kelola sendiri sekarang sudah milik kamu, ini ada buku yang selama ini bapak tulis dari kecil untuk kamu juga nak arjun “
“ternyata bapak juga hobi nulis ya (arjun tersenyum) ,(ia buka satu lembar awal judul nya penjual koran ), pasti ini kisah hidup bapak ya ?”
“iya jun dari sini bapak bisa hidup , dari sini juga tercipta banyak kenangan buat bapak ketika mendapatkan ibu dulu heheheh (tertawa).
“bapak ada-ada aja , udah kayak sinetron aja pak “
“yaudah gitu aja , bapak mau pulang dulu jun ,kalo kamu mau ngehubungin bapak nanti bapak kasih nomor telpon bapak “
arjun menganggukkan kepala nya dan tersenyum , arjun penasaran dengan semua cerita yang dibuat oleh pak karno , lembar perlembar ia buka dengan sangat hati-hati karena kertas yang telah usang dan rapuh membuat nya untuk tak sedikit pun merusak pemberian pak karno , cerita yang menyentuh menceritakan semua kenangan pahit maupun kenangan indah yang pernah dialami pak karno .setiap hari sambil mengisi waktu luang sambil menunggu pelanggan ia menyempatkan membaca buku itu dan menulis sebuah karya nya sendiri .waktu menunjukkan jam 1.15 arjun terlihat sedang menunggu seseorang yang biasa nya mampir ditempat nya , memandang kearah jauh tak terlihat satu pun orang yang dia maksud ,sebelum arjun bermaksud menjemputnya ternyata jeni dan rizal sudah diantarkan oleh seorang guru yang sangat menyayangi mereka berdua .dengan girang nya rizal dan jeni menghampiri arjun
“mas mas..... tadi jeni dapet nilai sepuluh loh pelajaran matematika “” aku juga mas dapet nilai sepuluh tapi pelajaran geografi (sahut rizal “
“bagus dong kalo gitu , yaudah makan dulu di dalem mas mau sholat dulu ,salinan kalian didalem kalo kalian cape istirahat saja di dalam lapak”
walaupun lapak nya tak besar namun cukuplah bila hanya untuk merebah kan badan yang tampak kurus itu .tak berselang lama sesudah arjun meninggalkan lapak seorang wanita muda dengan seutas kamera yang melilit di leher nya sedang mencari-cari sesuatu .
“de ada koran tempo ya ,tanya nya kepada rizal “
“maaf mbak saya gak tau mas arjun lagi sholat sebentar “
“oh yasudah de , kalo begitu saya tunggu saja “
matanya penasaran dengan yang ada diatas meja yang sejajar dengan koran ,ia buka buku itu .tulisan yang dibuat arjun ternyata menyentak perhatian wanita itu untuk membacanya , cerita tanpa judul yang memuat semua kisah hidup ketika asik membaca ,arjun mengehem dari samping lapak .
“ehheeeem , maaf mbak ada perlu apa ya “ wanita itu dengan sigap langsung mengembalikan buku yang diatas meja tadi
“hmmmmm ini mas gua cari majalah tempo , ada gak ya mas ,soalnya gua nyari kemana-mana ternyata udah kosong Cuma edisi terbatas “
“kebetulan Cuma ada satu ,nihh”arjun menunjukkan majalah itu
“nah sip banget nih , ( ujarnya ) oh iya buku itu tulisan mas ya yang diatas meja ,bagus juga mas kenapa gak di kirimin ke penerbit siapa tau beruntung dan bisa terjual “
“ah mbak bisa aja , saya menulis Cuma buat kesenangan saya aja untuk menyalurkan hobi saya semenjak dari kecil bukan untuk mencari uang “
“oh yasudah mas kalo begitu , kalo ada majalah tempo sisain gua ya mas tiga hari lagi gua mampir kesini “
tiga hari berikut nya berjalan seperti apa yang dibicarakan wanita itu sering mengambil majalah tempo yang telah disediakan arjun semua itu berlanjut dan berlanjut semakin jauh , wanita itu sering juga mampir untuk sekedar bercerita atau pun hal lainnya .
namanya tiyas seorang wartawan muda asal sumedang yang bekerja di sebuah koran terlaris di jakarta semakin hari mereka semakin akrab dengan arjun maupun dengan kedua adik nya . keduanya sering ngobrol di lapak ketika sedang menunggu pelanggan yang datang , suatu hari arjun mengizinkan tiyas untuk mampir sejenak ke kontrakan milik nya yang cukup sederhana,menyusuri setiap titik gang dengan obrolan-obrolan yang sama-sama menceritakan pengalaman mereka tak terasa dan akhirnya mereka sampai dikontrakan arjun .
“mas arjun udah pulang ,ciee bawa pacar nya ya “(kekanak-kanakan )
“ih kamu ini sok tau , masuk sana jeni mana ko gak keliatan ,ini namanya mbak tiyas kasih salam terus panggil jeni “
“hallo , namanya siapa de “(tanya tiyas) , kelas berapa sekarang “
“rizal mbak ,(sambil mencium tangan tiyas ) kelas 2 smp aku mbak , aku panggilin adik jeni dulu “
tak beberapa kemudian jeni keluar dengan membawa secarik kertas dengan gambaran yang ala kadarnya seperti gambaran anak-anak lazim nya .dan lalu mencium tangan tiyas dan arjun .
“mas gambaran jeni bagus gak , ini ayah ,ibu , mas rizal ,mas arjun, sama aku “ kemudian jeni berlari lagi meneruskan gambarannya di meja belajar kecil didekat kamar arjun .arjun sejenak merenung akan masa lalu ternyata tak mudah untuk melupakan semua ,walaupun masih usia anak-anak .
“sederhana banget kan kontrakan saya , ya beginilah adanya “
“hmmm gak juga kok lumayan (sambil melihat kekanan kekiri dan berjalan menyusuri sudut rumah ), ini cerpen buatan lo (sambil menunjuk kearah meja yang berserakan dengan kertas yang berisi tulisan )
“ehhh sorry belum saya bereskan , sebentar ya “
“gak usah kali lagian gua juga pingin baca (mengambil salah satu kertas ) “
arjun kemudian pergi kebelakang mengambil segelas air putih
“sorry ada nya Cuma air putih ini hehehe (terkekeh )”
“ihh santai aja gak usah repot-repot ko kayak apa aja sama gua “
ketika tiyas sedang asik membaca arjun pergi ketempat adik nya yang sedang meggambar , masing –masing dari mereka sibuk dengan sendiri nya sementara rizal sedang mengerjakan pr yang diberikan dari sekolah .
diam-diam tiyas membawa tulisan arjun yang tergeletak di meja , arjun lupa menyimpannya .karena hari semakin gelap tiyas memutuskan untuk pamit pulang ,dengan diantarkan arjun sampai di perujung gang.
dirumah tiyas meneruskan membaca nya yang tadi siang sempat terputus ketika dilapak penjualan arjun , tak terasa tiyas sampai meneteskan air mata nya karena semua cerita yang dimuat mengenai semua kepedihan , hatinya merasa iba dan turut merasakan sakitnya .malam itu tiyas berniat untuk mengirimkan tulisan arjun kesebuah penerbit buku siapa tau bisa merubah jalan hidupnya , dengan semangat membantu tiyas menyiapkan segala yang diperlukan dan memasukkan nya kedalam amplop coklat besar.
sedangkan arjun tak sadar akan buku yang ditulis nya telah hilang , ia melaksanakan sholat isya dan tertidur di meja belajar ketika sedang membaca buku tulisan pak karno .
Keesokan hari nya pagi-pagi sekali tiyas berangkat kesebuah penerbit terkenal di seputaran jabotabek , jantung nya berdegub ketika menyerahkan tulisan itu apakah ia akan mendapat kan hinaan atau bahkan sebuah sanjungan , kemudian laki-laki berdasi itu membaca nya dengan seksama sementara tiyas menunggu diluar , kepala nya mengangguk –angguk dengan serius laki- laki itu membacanya . kemudian laki-laki berdasi itu keluar .
“maaf ini tulisan siapa ya mbak , ko disini yang tertulis karya arjun “
“memang pak itu karya teman saya ,dan dia gak bisa hadir karena sedang ada urusan “
“tulisan ini cukup bagus dan cukup berbobot , tapi tim seleksi kami harus memeriksanya lagi , kalo boleh saya minta nomor mbak nanti saya hubungi kalo sudah ada hasil “
“ini pak sambil memberikan sebuah kartu nama ,terima kasih pak , kalo begitu saya pamit dulu”
laki-laki itu hanya tersenyum , dan menganggukkan kepala nya , ketika itu arjun teringat dengan buku tulisannya , mancari-cari disetiap sudut ruangan tapi tak juga ia temukan “apa ketinggalan di lapak ya “ dalam benak nya .
setelah mengantarkan kedua adik nya pergi kesekolah ia , melanjutkan pencariannya namun tak juga ia temukan hati nya merasa sedih karena catatan itu sangat berarti untuk nya .
“kenapa jun , nyariin apa lo? “arjun terkaget
“ini yas , buku saya ilang lupa saya kemaren narok nya dimana”
tiyas sengaja tak memberi tahu karena , ia akan memberikan suprise kepada arjun seumpama tulisannya diterima .
“coba lo inget-inget lagi dimana lo narok nya ,eh sebentar lagi gua boleh ngeliput lo kan “
“hah ( dengan wajah bingung ) ngeliput saya , emang saya pejabat korupsi pake diliput hahaha , kamu ini ada-ada saja yas “
tiyas mengalihkan pembicaraan ,
“oh iya nanti rizal sama sama jeni biar gua sekalian lewat , soal nya gua nanti mau ngeliput dideket daerah sana tentang komentar warga tentang banjir “
“iya deh terimakasih banyak ya yas “
“oke , gua berangkat dulu ya “
dalam perjalanan tiyas mendapatkan pesan singkat dari pak andi sebagai salah karyawan yang kemarin menyeleksi tulisan arjun .
pesan : selamat tulisan anda kami terima , minggu depan tulisan anda akan saya terbitkan dalam jumlah yang sedikit ,bila kapasitas permintaan bertambah kami baru menerbit kan lebih banyak lagi .
hati nya tak karuan senang nya , tak sabar untuk menunjukkan sesuatu yang akan ia tunjukkan kepada arjun minggu depan .
singkat waktu dan cerita , hari itu tiyas memberi tahu agar arjun tak membuka lapak majalah dan korannya nya dulu karena tiyas akan mengajak arjun kesebuah toko buku , arjun pun menanggapi rasa penasaran arjun akan apa yang akan ditunjukkan kepadanya oleh tiyas .berjalan di sejajaran rak buku mencari kesana-kemari dan kemudian tiyas memanggil arjun , jun arjun sini geh gua kasi tau , kemudian arjun menghampirinya “lo inget ini judul buku tulisan siapa “
mata nya tertatap serius tanpa berkedip “ini kan karangan saya , ko bisa ada diterbitkan “
tiyas hanya tersenyum
“kenapa semua ini kamu lakuin yas “
wajah tiyas tiba-tiba berubah dengan sikap arjun yang tiba-tiba tak senang jika bukunya diterbit kan .
“ko lo gak malah seneng sih buku lo bisa terbit ?, seharus nya lo seneng dong kan gua pingin ngebantuin elo “
“tapi kamu gak tau apa yang aku rasain yas , aku belum siap untuk semua itu aku belum siap “
lalu tanpa banyak bicara arjun meninggal kan tiyas , tiyas tampak kebingungan dengan sikap arjun ,yang dia harapkan hari ini bisa membuat arjun bahagia namun semua perkiraan nya salah tak ada senyum pun dihari itu , hari dan waktu terus berjalan tiyas rajin toko buku itu untuk mengecek semua buku karya arjun , tapi nihil tak satu pun terjual dia berusaha keras untuk mempromosikan keteman kerja nya dengan membeli salah satu buku itu .semakin lama semakin membludak usaha tiyas tak sia-sia , namun arjun masi bersikeras untuk tidak menemui tiyas karena kekecawaan nya. Tiga hari arjun tak terlihat membuka lapak nya ia berdiam diri dirumah sambil merenungkan semuanya . apa yang dia pikir kan saat itu mungkin telah membuat tiyas kecewa pada nya , ia berpikir mungkin sekarang saat nya untuk berubah .
Dari hari kehari buku karya arjun yang berjudul tukang koran terus habis terjual , judulnya memang sama dengan karya pak karno namun isinya sangat berbeda karena jalan hidupnya telah berubah ketika menjual koran jadi arjun membuat judul nya dengan tukang koran . tiyas bermaksud untuk pergi kerumah arjun sore itu namun niat nya dibatalkan tiyas memberinya waktu agar bisa berpikir lebih tenang .
handpone berdering dengan nomor telpon umum ,memanggil .lalu tiyas mengangkatnya .
“hallo selamat malam , maaf dengan siapa ini ya “
beberapa saat tak terdengar suara , lalu kemudian terdengar sebuah jawaban
“ ini arjun yas , maaf soal beberapa hari yang lalu , mungkin niat kamu baik tapi saat itu aku sedang bingung dan belum siap dengan semua kenyataan ,tapi sekarang saya siap untuk menjalani hidup yang nyata “
“nah gitu dong , lo kan memang dari kecil hobi dan pingin jadi penulis dan lo harus ngewujutin itu “
“iya thanks ya yas , kamu udah mau jadi temen terbaik dalam hidup saya “
“sama-sama jun heeee ......, eh besok gimana kalo kita cek ke toko buku itu “
“okelah siapa takut , (arjun menjawab dengan nada menantang ) lalu ia tutup telponnya .
hari minggu , jeni dan rizal libur sekolah arjun mengajak nya untuk pergi ketoko buku bersama tiyas , sebelum masuk ke toko itu di depan pintu terdapat banner yang bertuliskan dan bergambar buku karya arjun , arjun dan tiyas terkaget lalu dengan rasa penasaran ia masuk dan mengubek-ubek seluruh isi namun tak terlihat lagi buku itu ditempat semula , lalu tiyas menanyakan kepada kasir yang terletak didekat pintu masuk .
“maaf mbak numpang tanya , buku karya arjun yang judul nya tukang koran apa masih ada “
“sebentar ya mbak saya periksa dulu”(kasir ) ,sambil mengotak atik komputernya, oh sudah abis terjual mbak , buku itu laris banget , mungkin 3 hari lagi bisa mbak cari lagi disini “
lalu tanpa kata lagi , tiyas memanggil arjun ,rizal dan jeni ,mereka menghampirinya .
“jun lo tau gak ..kalo ....??? buku lo habis terjual “
“apa !! , hah kamu bercanda aja yas , mana mungkin tulisan aku terjual begitu cepet kan isi nya gak sebagus penulis “
“tapi sekarang lo udah jadi penulis , ngapain lo pingin jadi seperti penulis lagi“
jeni dan rizal hanya mlongo tak tau apa yang sedang dibicarakan oleh kedua orang dewasa itu .
“mas kenapa si , aku ko gak mudeng ya kayak nya mas sama mbak tiyas seneng bener “
“ahh mau tau aja kamu , nanti mas ceritain dirumah aja juga “
“eh mas itu diluar yang gambar buku tadi ko ada nama mas arjun ya “(rizal)
arjun tersenyum melihat tingkah laku adiknya yang selalu ingin tahu , lalu arjun mengajak nya pulang .dan menunggu keajaiban apa lagi yang akan datang .
“setelah lo jadi penulis dan jadi orang berduit apa rencana lo jun “
“saya mau nerusin kuliah lagi yas , umurku juga belum terlalu tua untuk itu heee...(terkekeh) , gua mau ngambil jurusan ekonomi”
“lah lo kan sastrawan kenapa ngambil ekonomi “
“sastra itu udah tertanam dalam diri saya yas , jadi gak usah kuliah sastrawan lagi saya sudah mengerti arti sebuah karya dalam jiwa saya”
hari itu menjadi hari paling bahagia dalam hidup arjun , tak menyangka akan karya tulis nya akan sebegitu menariknya untuk orang lain .tak lama kemudian ketika mereka sedang asik ngobrol dan bercanda layak nya keluarga .tiyas berpamitan karena ia akan pergi ibadah ke gereja , dengan rasa saling menghormati arjun mengiyakannya .
“eh ya jun , nanti kalo semua nya udh cair gua kesini lagi “
arjun mengangguk .
beberapa hari kemudian tiyas kembali lagi dan mengantarkan beberapa amplop yang berisikan uang dari penerbit , sedikit demi sedikit ia tabung untuk meneruskan sekolahnya yang sempat tertunda di kelulusan SMA , arjun terus meneruskan dan membuat karya-karya nya sambil kuliah di sebuah perguruan tinggi swasta dan tak mewah namun cukup bagus untuk penilainnya .hari-hari nya semakin disibukkan dengan bekerja sebagai pedagang koran sekaligus menulis dan kuliah . hampir tak ada waktu luang untuk nya beristirahat sedang kan seminggu sekali tiyas terkadang mampir untuk melihat keadaan adik-adik arjun , tiyas sudah menganggap mereka sebuah keluarga baru dalam hidup nya setalah semua telah merenggut semuanya dalam kecelakaan itu .
Dengan semua kerja kerasnya arjun mampu membeli sebuah rumah yang memang tak besar namun cukup sedang untuk kalangan seorang penjual koran seperti nya , ia tak lagi memikir kan biaya kontrakan ataupun lingkungan . disana arjun membangun sebuah keluarga baru bersama adik nya . disana ia rasakan kehidupan yang benar-benar nyata yang selama ini hanya menjadi sebuah impian belaka .hari-hari nya semakin dekat dengan tiyas , tiyas yang selama ini selalu mengerti apa yang sedang arjun rasakan membuat nya jatuh hati pada seorang wanita yang saat itu berbeda agama .
dengan semua yang ia punya arjun memutuskan untuk sekedar pulang kampung ke tanah kelahirannyamengajak jeni , rizal dan juga tiyas untuk ikut ,rindu pada semua orang yang dulu sering membantunya keluarga pak tejo ,pak bakri dan para tetangga lainnya yang telah ia anggap sebagai keluarga , namun tujuan utamanya ialah untuk berziarah ke pemakaman kedua orang tua arjun , memakan waktu seharian untuk sampai kesana , setibanya disana arjun memutuskan untuk menginap kerumah bu tejo sebab rumah sepeninggalan pak tejo untuk arjun tlah lama dibongkar . karena merasa kelelahan mereka tertidur pulas ,buk tejo hanya tersenyum dan memahami tak sempat untuk mengajak makan malam mereka sudah tertidur kecuali tiyas yang memang sejak tadi mengobrol dengan bu tejo
“tiyas kamu makan dulu sana , ibu gak tega mau bangunin mereka kamu makan duluan saja “
“oh terima kasih bu , kebetulan saya masih kenyang tadi dijalan mampir makan “
“nak tiyas pacar nya arjun ya , jarang-jarang loh arjun ngenalin pacar nya keorang lain “
“bukan kok bu , ibu ada-ada aja saya temen nya bu “
“oh begitu , sekarang arjun kerja apa nak disana , sepertinya ia tak pernah memberi kabar ibu tentang kemajuannya disana “
“arjun sekarang jadi orang hebat bu (ujar tiyas ) , dia jadi orang terkenal dengan hasil kerjanya arjun jadi seorang penulis sambil berjualan koran dan majalah bu , memang tak banyak uang yang ia hasilkan namun cukup untuk membangun sebuah toko baru yang lebih besar heee (tertawa terkekeh )”
“sejak dulu ibu sudah yakin dengan tekad anak itu , ibu bangga dia orang nya sangat ulet dalam hal pekerjaan “
obrolan malam itu lebih banyak menyangkut masalah arjun ,jam menunjukkan jam 11 malam .semua tertidur lelap dan mengubah keadaan menjadi sunyi yang terdengar hanyalah derikan jangkrik yang bersahut-sahutan .kelelawar malam yan berterbangan sekadar mencari makan untuk mengisi perut nya .
hingga tiba keesokan hari nya , pagi terasa sangat sejuk udara perkampungan yang belum terjamah oleh polusi membuat nafasnya berdesis dengan seutas sarung yang masih melilit dibadannya arjun membuka pintu depan ,betapa indah nya tanah kelahirannya hutan –hutan karet dan pinus yang terlihat jauh seakan-akan melambai ikut menyambut indah nya pagi kicauan burung kutilang yang terbang dari dahan ke dahan lainnya menambah indah nya pagi itu , sekedar berjalan menghirup angin segar dan meyapa beberapa kerabat yang telah lama ia tinggal kan menjadi agenda hari pertama liburannya.
“eh mas arjun kapan kamu pulang “ terdengar dari arah belakang , arjun pun menoleh , yang ternyata adalah risa temen kecil yang sempat menjadi seorang yang spesial ketika di sma dulu
“eh risa , baru semalem mas nyampe , lah kamu apa kabar ko pangling aku ya hee”
“ah mas kebanyakan ngeliat wajah-wajah kota si , sama risa aja sampe lupa “ sambil membuang muka , dengan nada meledek
“ya bukan begitu lo sa , tapi kamu tambah cantik itu yang buat mas pangling “
“ah mas arjun bisa aja ngerayu nya , yasudah mas risa mau pergi ngirim bapak dulu keladang “
tanpa ia sadari sedari tadi ternyata tiyas sudah terbangun dan memperhatikan obrolan mereka berdua , kemudian arjun kembali kerumah bu tejo untuk mandi dan membangunkan kedua adik nya , karena nanti arjun akan mengajak mereka berziarah ke makam ayah dan ibunya , didalam terlihat bu tejo yang sedang menyiapkan sarapan bersama tiyas disusul kedua adiknya yang telah terbangun dengan mata sembab dan menguap kedua nya langsung duduk di depan televisi.
“jeni rizal kalian cuci muka dulu trus sarapan , masak baru bangun langsung ke televisi “ (tegor arjun )
“eh nak arjun dari mana saja tadi , habis jalan-jalan ya ?”
“iya bu jalan –jalan sambil godain gadis-gadis desa sini “ dengan nada keras dan sewot
“ih kamu cemburu ya ,hehehehe(arjun tertawa) dan tiyas masih dengan wajah judes “ siapa juga yang cemburu , enak aja huh..”
bu tejo tersenyum melihat tingkah mereka yang ke kanak –kanakan
“sudah-sudah ayo sarapan ,jeni rizal kalo sudah cuci muka kemeja makan “arjun
kemudian mereka sarapan pagi bersama-sama dengan hikmat nya .
“eh iya bu , ibu sekarang tinggal sendirian disini “
“iya , tadinya anak ibu mengajak ibu untuk tinggal juga dijakarta tapi ibu tidak mau meninggalkan rumah ini yang penuh dengan kenangan , jadi budi hanya mengirimkan uang lewat kantor pos setiap minggunya , pemasukan dari kebun karet juga masih bisa kok biayain ibu sendiri”
“oh begitu bu , kalo ibu perlu apa-apa ibu bisa hubungin arjun “
sesudah semuanya selesai arjun mengajak kedua adik nya untuk berberes dan mandi , sebelum matahri siang menyongsong mereka akan berziarah kemakam kedua orang tuanya dan pak tejo .dengan segala perlengkapan ziarah yang telah disediakan pertama arjun , kedua adik nya , tiyas dan bu tejo menuju kepemakan ayah dan ibu arjun terdahulu , dengan segenap doa yang mereka panjat kan dengan kemerahan bunga mawar yang semoga mewarnai hari-hari nya di alam sana, arjun tampak menitikkan air mata dan tangan kanannya memegang nisan ibunya .arjun sekarang sukses berkat ibu yang selalu meyakin kan arjun (tutur arjun dalam hati )arjun udah bisa buat ibu dan bapak bangga, arjun udah bisa ngejaga rizal dan jeni .namun kebahagiaan yang arjun buktikan tak akan pernah terlihat olehnya , hanyalah dalam bunga tidur semua itu menjadi nyata.bu tejo dan tiyas lalu memanggul arjun dan berjalan meninggal kan pemakaman umum itu selanjutnya menuju ke pemakan pak tejo .
seusai prosesi ziarah mereka memutuskan untuk pulang kerumah , di perjalan pulang mereka bertemu dengan risa yang kebetulan pulang dari ladang ayah nya .
“eh risa , baru pulang “
“iya mas , mampir mas kerumah “
“yasudah kita duluan saja (sahut bu tejo ), biarkan mereka ngobrol ,mungkin kangen wajarlah mereka berteman memang sejak kecil “
tanpa berkata tiyas langsung mengikuti bu tejo , tiyas merasa tak tenang dengan perasaan hatinya yang sedang ia rasakan .mukanya tampak murung dan duduk di dipan bambu teras rumah bua tejo .
“hayoo mbak tiyas cemburu ya dengan mas arjun (ledek rizal )
“eh rizal bikin kaget mbak aja , sok tau kamu (sambil tersenyum )”
“itu buktinya dari tadi muka nya mrengut terus (jeni membela rizal) hahaha keduanya tertawa dan masuk kembali kedalam rumah meneruskan menonton tv .
Sementara arjun berjalan-jalan berdua bersama risa , melihat sekitar perkampungan yang penuh dengan hiruk pikuk para petani mengurusi ladang dan sawah mereka ,ngobrol ngalur ngidul tak jelas apa yang dibicarakan hingga suatu klimaks obrolan menjadi suatu obrolan yang serius ,sejak dulu risa memang sudah menaruh hati kepada arjun ,tetapi tak pernah ia ungkapkan sebab arjun telah menganggap nya sebagai seorang sahabat .
“ehmm (mendehem) ,mas arjun kerja apa disana mas ,sepertinya adem ayem “
“butuh perjuangan untuk itu semua ,mas sekarang jadi penjual koran dan majalah” arjun tak mau menyombongkan kalau ia sekarang jadi penulis ,biarkan waktu yang memberi tahu sahabat kecilnya itu .
“begitu ya mas ,, hmmmm mas risa boleh tanya gak ? (dengan hati-hati risa berbicara takut menyinggung arjun ), mas disana sudah mempunyai pacar atau kekasih ? terus yang tadi bersama mas arjun itu siapa ? maaf kalo aku lancang “
arjun tersenyum ,sambil menghembuskan nafas
“mas belum punya seorang pilihan tapi aku sudah melihat yang terbaik ,dia baik ,cantik ,murah hati dan sangat suka menolong “
risa hanya tertunduk lesu , raut wajahnya seketika berubah menjadi raut muka kesedihan ,harapannya patah dengan kata-kata arjun .
“tapi.......... (lanjut arjun )
“tapi kenapa mas ?”
“tapi mas arjun ragu ,kami memang saling suka bahkan nantinya akan menjadi saling cinta tapi kehidupan kami berbeda,aku dan dia berbeda kepercayaan “
seketika hati risa sedikit merasa plong , mungkin ada setitik harapan yang bisa ia perjuangkan .
“ahh sudah tak usah dibahas , mas mau fokus dengan pekerjaan dulu ris “
lalu kedua nya terus menyusuri jalan setapak persawahan dengan padi yang mulai menguning dan siap untuk dipanen , tak terasa hari pun semakin siang matahari mulai dengan kokoh memancarkan sinarnya dengan sangat teramat gagah .arjun dan risa memutuskan untuk berpisah diperujung jalan .
“ris , mas arjun besok mau pulang lagi kekota , mas sekalian pamit disini ,salam buat ibu dirumah ya”
“ko cepet banget mas , kenapa tidak 1 atau 2 hari lagi “
“oh tidak bisa ris , mas mau kerja lagi takut nya nanti malah kelabakan , yasudah kalo begitu kamu hati-hati dijalan “
risa melambaikan tangan , dan mereka berpisah
hari itu
pagi-pagi sekali semuanya telah beres , perlengkapan telah dipacking kedalam ransel milik arjun , sementara menunggu riza dan jeni arjun berpamitan dengan tetangga sekitar ,ia mencari-cari sepertinya ada yang tak tampak dan mengucapkan hari perpisahan hari itu yaitu risa ,”risa kemana ya , ko dia gak kesini apa dia lupa” pikir arjun .lalu kemudian masuk dan memberikan sesuatu kepada bu tejo.
“bu ini arjun ada sedikit rizky buat ibu , dan ini saya titip buat pak bakri dulu arjun punya utang sama pak bakri untuk biaya pengobatan ibu “
“oh yaudah nanti ibu berikan sama pak bakri , kebetulan kalo sering mengambil barang dia selalu mampir kerumah ibu”
“jeni ,rizal udah selesai belum ?” tanya arjun dengan suara sedikit lantang
“belum mas sebentar lagi “sementara rizal telah keluar duluan ,disusul dengan tiyas yang sudah tampak cantik jeni mengikutinya dari belakang .
semuanya keluar , beberapa tukang ojek pak kardi dan anton telah menunggu diluar rumah sejak tadi .
dari kejauhan terlihat risa yang sedang memandang tak berani ia mendekat , hatinya sedih dan terpukul titikan air mata tak bisa ia bendung lagi .pertemuan singkat yang sedikit membuat nya senang dan berwarna dihari itu akan selalu ia tunggu untuk hari-hari berikutnya.
selang beberapa saat keberangkatan mereka , pak bakri yang akan mengambil barang dagangan untuk dibawa kepasar selingan sebagai pengepul sabut kelapa .mampir dirumah bu tejo yang sedang membersihkan halaman rumah nya .
“assalamualaikum bu tejo “
“walaikum salam “jawab bu tejo , eh pak bakri barusan aja mereka berangkat pak”
“mereka siapa ? anak ibu “
“oh bukan ,arjun pak sejak kemarin dia disini ,tapi cepat-cepat dia pulang karena ada urusan pekerjaan katanya , dan dia menitip kan ini untuk bapak “
“apa ini bu (meraba bungkusan kecil yang terbungkus rapat )”
“katanya si utang yang dulu pak , waktu ibu nya sakit “
“hmm iya iya , arjun arjun tak pernah berubah selalu mengembalikan apa yang diberi orang lain , ngomong-ngomong kerja apa dia bu “
“arjun gak mau ngasih tau ibu , katanya sih kalo sudah sukses baru dia ngabarin apa pekerjaannya , tapi yasudah lah yang penting dia baik-baik saja dan tetep dijalan yang bener pak “
pak bakri hanya manggut-manggut , dalam perjalan tiyas tampak masih tak mau berbicara entah kenapa , apa sikap nya yang begitu sensitif membuat nya masih cemburu , arjun yang duduk bersebelahan dengan jeni, dan tiyas duduk berdua bersama rizal , menatap kearah luar jendela tampak matahari mulai tenggelam di ufuk barat , menyinari seluruh alam yang indah deretan pepohonan yang hijau memberikan hiburan di setiap sudut perjalanan . jam 9 malam mereka sampai diterminal dan keduanya berpisah disana ,karena memang rumah arjun dan tiyas tak searah .
seiring berjalannya waktu yang terus bergulir , dengan segala usaha yang ada lapak yang dulu terlihat kecil dan usang kini telah disulap menjadi sebuah toko yang besar berkat ketekunan dan keuletan arjun selama ini .ketika itu kakek renta dengan sebilah tongkat yang masih setia menemani hidupnya datang kelapak arjun yang dulu , ia terkaget seketika lapak itu tak lagi ada ia tampak bingung sambil menunjuk-nunjuk kearah suatu titik . lalu ada seorang yang menghampirinya dan bertanya .
“maaf pak bapak cari apa , bisa saya bantu pak ? “
“saya warung koran yang dulu mangkal disini nak ,sekarang mana ya “
“oh arjun ya pak , dia sekarang sudah pindah dan membuka toko buku diseberang sana pak “ sambil menunjuk sebuah toko yang tampak ramai dipenuhi pengunjung , lalu orang tua itu menghampiri toko itu dengan berjalan terseok –seok ia buka pintu toko itu menengok ke kanan kekiri namun tak ia dapatkan orang itu .dari kejauhan matanya tampak fokus dengan mengernyitkan dahinya .
“maaf pak , bapak mau cari buku apa ya “(dalam hati arjun seperti mengenalnya)
“saya tak mencari apa –apa saya mencari lapak pedagang koran yang ada di ujung sana “
“pak karno , apa benar pak karno .....”lalu ia memeluk pak karno
“apakah kamu arjun , maaf bapak sudah begitu tua untuk mengingat nya “
“iya saya arjun pak , mari duduk pak sebentar “(sambil menggandeng pak karno keruangan pribadi ), sebentar pak saya buatkan minum .
hari itu tak disangka oleh nya kedatangan orang yang selalu memotivasinya , dengan senang dan gembira arjun menyajikan teh hangat dan beberapa makanan kecil .
“bapak apa kabar , sudah lama ya pak gak ketemu, sejak bapak ikut dengan anak bapak ,bapak dengan siapa kesini “
“bapak diantarkan anak bapak , dia sedang ada tugas di jakarta jadi bapak putuskan ikut dengannya, nak arjun memang hebat bisa merubah lapak nan lusuh menjadi layak nya istana buku seperti ini “(dengan nada seperti kakek-kakek)
“bapak bisa aja , ini semua berkat bapak yang selalu memotivasi saya untuk bekerja keras pak , maaf saya tak sempat memberi kabar ke bapak “
“iya tak apa nak , yang penting kamu sekarang sudah sukses , jangan pernah lupa bersyukur atas pemberian dari yang diatas , sholat jangan sampe ditinggalkan , bagaimana dengan jeni dan rizal ”
“rizal sudah kelas 3 SMA sekarang pak , sebentar lagi lulus dan jeni baru mau masuk smp tahun ini “
“jaga mereka baik-baik , mereka anak yang baik dan juga cerdas kalau bisa sekolah kan mereka setinggi-tingginya “
“iya pak itu pasti , akan saya usahakan semampu saya “
tiyas yang telah selesai meliput berita ,mampir menemui arjun sebab sejak tadi sms nya tak dibalas oleh arjun dan telponnya pun tak diangkat namun sebelumnya tiyas menyempatkan diri untuk sejenak pergi kegereja untuk berdoa , tiyas memang seorang yang sangat relegius dan sangat taat beragama ,arjun yang telah wisuda sarjana ekonomi berniat akan memebicarakan hal yang serius kepada tiyas masalah hubungan mereka yang akan dibawa sampai kapan , sudah saat nya semua ditentukan . malam harinya arjun mengajak tiyas untuk makan malam disebuah restaurant suasana malam itu begitu mendukung dengan suasana terbuka ditemani sebuah bulan , mengawalin percakapan keduanya .
“yas aku mau ngomong masalah hubungan kita , aku sayang sama kamu aku mau membicarakn ke hal yang serius tak selamanya kita terus begini yas “
“aku juga udah tau jun sebelum kamu bilang gitu aku juga udah tau , aku sayang sama kamu bahkan lebih sayangnya mungkin udah saat nya kita tentukan dari sekarang jun , tapi aku belum siap untuk ini ,kehidupan kita sangat berbeda jun ,kepercayaan kita berbeda mungkin memang risa yang cocok sama kamu jun, walaupun kita paksakan semua ini gak akan bisa jun “
“i know aku tau , tapi .........”
“tapi kenapa , sudah lah jun mungkin memang ini yang terbaik “(meneteskan air mata , dan tersengal-sengal)
“tapi aku cinta sama kamu yas , aku gak bisa ninggalin kenangan dan cerita yang selama ini kita bangun “
“kita bisa apa jun , kita gak bisa apa-apa kehidupan kita ini berbeda kamu pasti bisa memahami itu jun “
keduanya tampak dalam kesedihan , lalu tiyas meninggalkan arjun arjun termenung entah apa yang dirasakan saat itu kepedihan dan rasa sakit yang mendalam yang menusuk hatinya yang paling dalam .
“kenapa ia harus mengenal tiyas dari awal “(dalam benakknya ) , perasaannya galau memandang rembulan yang tampak telah redup tertutup oleh awan , tidurnya gelisah selalu teringat kata-kata yang telah terucap beberapa jam yang lalu , hari jumat siang setelah ia sholat jumat dan adik nya pulang sekolah ia memutuskan untuk mengajak adik nya pulang kekampung lagi beberapa hari menenangkan diri , kebetulan hari saptu tanggal merah hari imlek jadi ada waktu 2 hari untuk menenangkan perasaannya yang sedang rapuh , sementara itu tiyas sudah beberapa hari tak bekerja tiyas mengurungkan dirinya dikamar dan tak mau diganggu , sinta teman sekamar nya selalu menanyakan apa yang sedang ia alami namun tiyas tak pernah mau mengungkapkan apa yang sedang ia rasakan saat itu , hanya cukup diam dan membisu ,keceriaanya seketika telah hilang bagaikan ditelan badai .
“yas lo kenapa si murung mulu ,gak keluar rumah ,gak makan mau sampe kapan lo kayak gini terus sudahlah mungkin semua itu telah diatur oleh yang kuasa”
“susah nta buat gua ngeluapain gitu aja , gua udah terlanjur sayang denga arjun “
“tarus apa yang mau lo lakuin , mau selamanya kayak gini gak ada guna yas ,semua gak ada gunanya “
di lain waktu dan keadaan arjun sudah tiba beberapa jam yang lalu dirumah bu tejo yang sedang menjait pakain diruang belakang menanyakan arjun ada apa gerangan belum genap sebulan ia telah kekampung lagi .
“tumben-tumbenan jun , belum genep sebulan udah kesini lagi ,kangen ya sama ibu hayyooo ngaku “
“ahh ibu bisa aja , gak kenapa-napa ko bu arjun Cuma mau nenangin diri aja disini , soalnya dikota sumpek bu , kalo kamu udah sukses mendingan kamu pulang terus buka usaha disini bareng ibu ngurusin kebun karet “
“ndak bisa bu , arjun sama jeni harus sekolah nanti saja kalo rizal udah kuliah biar dia yang nempatin rumah arjun disana bersama jeni”
tersentak bu tejo terkaget
“hah , nak arjun sudah punya rumah sendiri toh lalu apa kerjaan kamu disana sampai sesukses itu “
“saya punya toko buku yang cukup lumayan besar disana bu , dari hasil tabungan saya sedikit demi sedikit dari menulis sebuah sekenario film sama buku dan juga jualan koran “
“ibu bangga sama kamu jun , kamu selalu memegang teguh apa yang pernah diajarkan oleh almarhum kedua orang tua mu untunk selalu bekerja kers “
“ya begitulah bu, tapi saya sedang tak enak hati bu , saya punya seorang kekasih tapi dia berbeda kepercayaan dengan arjun “
“ingatlah jun ,cinta itu dapat mengalahkan segalanya seperti mencampurkan antara minyak dan air yang tak pernah bisa menyatu , jika memang dia tulang rusuk mu pasti dia akan kembali padamu nak , jadi tak usah kau pikirkan , ajak adikmu untuk makan “
“iya bu saya berharap begitu “
sedikit mengurangi rasa penatnya pada malam itu , ia pun sedikit dapat lebih tertidur dengan nyenyak , esok hari nya arjun bermaksud untuk mencari risa kerumah nya , ternyata kata ibunya risa sejak tadi pagi sudah pergi tapi tak tau kemana dia pergi . menyusuri setiap sudut perkampungan namun arjun tak menemukannya ,arjun seketika teringat sewaktu kecil mereka mempunyai tempat favorit yang selalu mereka kunjungi setiap hari minggu pagi .di bukit bunga orang sekitar menamainya sebab memang banyak ditumbuhi bunga yang entah dari mana datang nya ,terlihat seorang wanita muda dengan rambut terurai menghadap kearah sungai seperti menatap sesuatu .
“risaa.....”
risa menoleh kebelakang dan tersentak lalu ia bangun
“eh mas arjun , kapan mas kesininya kok risa gak tau “
“ya iyalah kan mas gak ngasih tau makannya kamu gak tau hehehe....”berjalan dan duduk disamping risa ,kamu inget gak kita dulu setiap hari minggu sering main kesini .
“aku pasti inget mas , aku gak pernah lupa dengan itu semua hingga saat ini aku sering kesini mas nunggu seseorang ,upppsss “risa kecplosan
“nunggu siapa ris , pasti nunggu kekasih kamu ya , hayo ngaku “ risa tampak malu-malu dan lalu semuanya terdiam mas
“bukan mas ,,,,,,,,,,,(tertunduk ) aku disini nunggu ... nunggu....nunggu ..mas arjun “
lalu arjun menatap risa dengan penuh keheranan
“nunggu mas (menunjuk diri sendiri ) “
“iya nunggu mas arjun ,maaf kalo udah buat mas arjun tak nyaman “
“tak apa kok ris , tapi kenapa kamu gak pernah ngungkapin kalo kamu suka ke mas arjun”
“risa takut mas , mas arjun kan sudah punya mbak tiyas “
sketika mimik muka arjun berubah
“sudah tak usah menbicarakan dia ris , mas lagi males ngebahasnya , ris ajak mas jalan-jalan yok mas kangen dengan semuanya yang ada disini”
“ayo mas kalo begitu “
tiba-tiba arjun menggandeng yang membuat risa terkaget , arjun kemudian tersenyum melihat risa yang salah tingkah ketika digandengnya , diperjalan canda tawa mereka terpecahkan oleh cerita masa kecil mereka , mencari capung bersama sepulang sekolah ketika sd dulu dan menangkap kupu-kupu di bukit bunga ,rasanya ingin mereka ulangi lagi masa-masa indah itu . arjun sedikit nyaman pada hari itu dengan apa yang dilakukan risa untuk nya namun dibenakknya masih sedikit terganjal oleh pikiran tentang tiyas .dengan hari itu meyakinkan arjun untuk akan berusaha melupakan tiyas karena memang mereka tak akan pernah bersatu .hampir setiap minggu arjun pergi kekampung halamannya untuk bertemu risa dan tiyas hanya memandang dari kejauhan dan meyakinkan keteguhan hatinya .
beberapa bulan kemudian arjun memutuskan untuk menikahi dengan niat , untuk melupakan tiyas selamanya hari pernikahannya akan di selenggarakan di desa kelahirannya , tiyas pun mendapatkan undangan dari pernikahan arjun tanggal 20 bulan februari 2009 tertera tanggal persepsi pernikahan , hatinya saat itu benar-benar hancur berkeping-keping hingga tak tersisa , tangannya bergetar secari kertas undangan telah dibasahi oleh tetesan air mata yang begitu deras nya .lesu tak berdaya seperti orang yang tak lagi mempunyai semngat hidup , hatinya telah diapatahkan oleh selembar kertas , malam itu tiyas meyakinkan bahwa diri nya memang dan harus melupakan arjun . sementara di lain waktu arjun sedang duduk di dipan depan tak sengaja sari mengintip dar jendela apa yang sedang dilakukan arjun , hatinya menangis ketika melihat ternyata arjun sedang memandangi foto tiyas .”tiba-tiba timbul fikiran sari kalau ternyata arjun tak kan pernah bisa mencintainya yang ada dhatinya hanyalah tiyas “ namun semua itu tak ia ungkap kan malam itu juga .
h-1 sebelum pernikahan arjun , tiyas telah sampai kedesa untuk memenuhi undangan arjun , dirumah bu tejo ia menginap dan sempat berbicara dan mengucapkan selamat kepada arjun pada malam sebelum hari pernikahannya arjun tak bisa apa-apa ia hanya bisa meminta maaf kepada tiyas akan semua hal ini.
keesokan hari nya sperti orang tak yakin arjun mondar –mandir tampak kebingungan dan gelisah sedangkan pengantin wanita telah bersiap dirumah nya .namun bukan risa lah yang tlah tampil cantik dengan dandanan ala adat orang jawa namun tiyas lah yang telah mengenakan semua itu . ternyata semalam ketika arjun sedang keluar risa menemui tiyas dirumah bu tejo , alangkah terkejutnya pagi itu yang ternyata pengantin wanitanya bukan lah risa namun tiyas dan risa berdiri tepat disamping tiyas dan bebicara .
“aku ikhlas mas , aku memang bukan yang terbaik dihati kamu aku paham itu (meneteskan air mata dan tersenggak ) , kebahagiaan kamu Cuma buat tiyas mas bukan buat aku “
“tapi ris , aku......
“sudahlah mas ,aku bahagia kok asalkan mas juga bahagia (sambil menuntun tangan arjun ke tangan tiyas) , kalian memang pasangan yang cocok mas arjun dan mbak tiyas (mengusap air mata yang mengalir dipipinya ), aku Cuma pingin meluk mas arjun untuk yang terakhir kalinya “
lalu mereka berpelukan , hari persepsi yang penuh haru mewarnai hari itu setelah itu risa berlari dan pergi dari acara persepsi terus dan terus meneteskan air matanya pernikan itu para tamu undangan pun hanya terbengong tak mengerti apa yang sedang terjadi , lalu semuanya dilanjutkan .
“jun sekarang aku sudah siap “ pertama tiyas mengucap dua kalimat sahadat dan beberapa bacaan dan disaksikan orang ramai bahwa tiyas akan menjadi seorang muslim .
lalu semuanya berlanjut keacara pernikahan dengan mengucapkan doa dan ijab kabul kemudian keduanya resmi menjadi suami istri ,setelah pernikahan selesai arjun meminta izin kepada tiyas untuk menemnui risa , dengan senang hati tiyas mengizinkannya tak sulit mencari risa , di bukit bung lah tempat nya menghibur diri .
“risa , maafin mas ya “
“iya ndak apa –apa mas , aku juga bahagia kok kalau mas juga bahagia “(tersenyum)
“terimakasih ris , kamu bisa memahami itu “
lalu semuanya berakhir , kehidupan mereka bahagia dikota toko buku nya yang berkembang menjadi pemasukan tersendiri untuk arjun , sedangkan arjun bekerja disebuah perusahaan swasta sebagai menejer sebuah pabrik sepatu terkenal dijakarta .badai telah ia lalui masa yang dulu membuatnya hampir menyerah oleh sebuah ketidak mampuan dan kemiskinan kini semua berubah seperti diterjang badai dan terdampar dipulau yang sangat indah , sekarang ia menjadi bapak dari ketiga anak nya 2 adik kandung dan satu anaknya . rizal sudah bekerja dan jeni kuliah di universitas indonesia di bidang kedokteran karena keahliannya jeni mendapatkan beasiswa ke amerika serikat . ia tak pernah membayang kan semua akan menjadi seperti ini kehidupannya yang dulu sangat keras dengan kehidupan yang seadanya kini telah berubah bagaikan seorang raja , namun arjun tak pernah lupa dengan pesan ibunya untuk selalu bekerja keras , berdoa dan bersyukur .hingga tua arjun dan tiyas hidup bersama dalam ikatan cinta yang tak akan pernah terpisahkan , sedangkan risa telah mengandung anak laki-laki dari suaminya yang ternyata sandi anakdari bu tejo yang juga sahabat arjun sewaktu dikampung .
sampai sekarang mereka masih terus dan terus mencintai , saling memahami , mengasihi satu sama lainnya .
cinta itu dapat mengalahkan segalanya , cinta juga yang mengajarkan kita untuk tetap tegar dan bersabar .
dan dengan usaha yang gigih ketentraman ,kebahagian dan cinta itu akan bersatu menjadi bumbu pemanis kehidupan yang akan selalu abadi sepanjang masa.
the end
by :fredy anggara
sinopsis :seorang anak muda yang berusaha untuk mengubah jalan hidupnya menghadapi kehidupan yang keras demi mendapatkan suatu kebahagiaan hingga tiba saatnya dia menemukan cinta.
0 comments:
Post a Comment